Apa yang terlintas di dalam benak seorang Luis Suarez saat
menggigit Branislav Ivanovic? Atau mungkin ketika seorang maestro seperti Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi dalam
laga seakbar Final Piala Dunia? Demikian halnya dengan “tendangan kungfu” Eric
Cantona kepada seorang supporter Crystal Palace, yang menurut pengakuan Cantona
itu dilakukan sebagai pembelaan diri karena sang supporter telah mengejeknya.
Itu hanyalah sekelumit “kecil”. Matahari bersinar indah
ketika pada pagi tanggal 14 Juli 1969, aksi militer Angkatan Udara El Salvador
dimulai. Mereka meluncurkan serangan besar di sepanjang jalan utama yang
menghubungkan Negara El Salvador dengan Honduras. Pesawat-pesawat tempur El
Salvador menari-nari di atas langit pulau-pulau Honduras di Golfo de Fonseca.
Untuk selanjutnya, perang
antara El Salvador dan Honduras, tercatat dalam sejarah sebagai perang antar
dua Negara yang “disebabkan” oleh sepakbola
Maka tidaklah berlebihan, ketika banyak orang di berbagai
belahan dunia percaya bahwa sepakbola bukan sekedar olahraga. Jangan tanyakan
kebenaran pernyataan kalimat ini pada
para supporter fanatik sebuah klub sepakbola. Mereka akan tertawa, dan dengan
santai menimpali. “Itu salah. Sepakbola lebih penting dari persoalan hidup
mati.”
Banyak orang mungkin akan tertawa, terutama bagi mereka yang
sama sekali tidak mengerti mengapa dua puluh dua anak manusia rela berpeluh
keringat memperebutkan si kulit bundar, tidak jarang akan berakhir dengan
resiko cedera bagi para pemainnya. Seorang filsuf, yang mungkin penggemar berat
olahraga yang sejak beberapa tahun belakangan pamornya semakin menanjak di
kalangan perempuan karena tersihir pesona David Beckham atau bahkan Mario Balotelli,
dengan bijak akan mengiyakan apa yang mungkin menjadi lelucon bagi banyak
orang: Sepakbola lebih penting dari persoalan hidup mati. Segala yang hidup
pasti akan mati, ujarnya. Sebuah aturan yang telah menjadi ketetapan di luar
kehendak manusia. Tak ada yang bisa dilakukan anak manusia kecuali menjalaninya,
sebuah ketakberdayaan mutlak, karena di dalamnya tak ada ruang tawar-menawar.
Pada titik ini, bagi sang filsuf, masalah hidup dan mati tak lagi menjadi
penting. Sebuah keniscayaan tak lagi menjadi penting untuk dipikirkan, untuk
dipertanyakan.
Sepakbola, dengan segala drama yang mengisinya, memberi
ruang bagi para pelakunya, untuk berimprovisasi, berlari sepanjang 90 menit
untuk merebut nasib, merubahnya, memperjuangkannya. Untuk menghindari
kepasrahan atas apa yang telah ditetapkan. Setiap detik dalam hidup adalah
final, ujar Franz Kafka.
Sepakbola mungkin hanya sebatas olahraga. Tidak mungkin juga
lebih penting dari hidup dan mati. Lebay jika menurut anak-anak sekarang. Tapi
di dalamnya, ada nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan. Bahwa impian akan
terwujud bagi siapa yang berlari hingga detik terakhir, tak hanya diam untuk
mengangankan, bahwa impian akan terwujud bagi siapa yang berlari menciptakan
kesempatan, tak hanya diam untuk menunggunya datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar