Selasa, 23 April 2013

Sepakbola Mimpi



Apa yang terlintas di dalam benak seorang Luis Suarez saat menggigit Branislav Ivanovic? Atau mungkin ketika seorang maestro seperti  Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi dalam laga seakbar Final Piala Dunia? Demikian halnya dengan “tendangan kungfu” Eric Cantona kepada seorang supporter Crystal Palace, yang menurut pengakuan Cantona itu dilakukan sebagai pembelaan diri karena sang supporter telah mengejeknya.
Itu hanyalah sekelumit “kecil”. Matahari bersinar indah ketika pada pagi tanggal 14 Juli 1969, aksi militer Angkatan Udara El Salvador dimulai. Mereka meluncurkan serangan besar di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Negara El Salvador dengan Honduras. Pesawat-pesawat tempur El Salvador menari-nari di atas langit pulau-pulau Honduras di Golfo de Fonseca.
Untuk selanjutnya,  perang antara El Salvador dan Honduras, tercatat dalam sejarah sebagai perang antar dua Negara yang “disebabkan” oleh sepakbola
Maka tidaklah berlebihan, ketika banyak orang di berbagai belahan dunia percaya bahwa sepakbola bukan sekedar olahraga. Jangan tanyakan kebenaran pernyataan  kalimat ini pada para supporter fanatik sebuah klub sepakbola. Mereka akan tertawa, dan dengan santai menimpali. “Itu salah. Sepakbola lebih penting dari persoalan hidup mati.”

Banyak orang mungkin akan tertawa, terutama bagi mereka yang sama sekali tidak mengerti mengapa dua puluh dua anak manusia rela berpeluh keringat memperebutkan si kulit bundar, tidak jarang akan berakhir dengan resiko cedera bagi para pemainnya. Seorang filsuf, yang mungkin penggemar berat olahraga yang sejak beberapa tahun belakangan pamornya semakin menanjak di kalangan perempuan karena tersihir pesona David Beckham atau bahkan Mario Balotelli, dengan bijak akan mengiyakan apa yang mungkin menjadi lelucon bagi banyak orang: Sepakbola lebih penting dari persoalan hidup mati. Segala yang hidup pasti akan mati, ujarnya. Sebuah aturan yang telah menjadi ketetapan di luar kehendak manusia. Tak ada yang bisa dilakukan anak manusia kecuali menjalaninya, sebuah ketakberdayaan mutlak, karena di dalamnya tak ada ruang tawar-menawar. Pada titik ini, bagi sang filsuf, masalah hidup dan mati tak lagi menjadi penting. Sebuah keniscayaan tak lagi menjadi penting untuk dipikirkan, untuk dipertanyakan.
Sepakbola, dengan segala drama yang mengisinya, memberi ruang bagi para pelakunya, untuk berimprovisasi, berlari sepanjang 90 menit untuk merebut nasib, merubahnya, memperjuangkannya. Untuk menghindari kepasrahan atas apa yang telah ditetapkan. Setiap detik dalam hidup adalah final, ujar Franz Kafka.
Sepakbola mungkin hanya sebatas olahraga. Tidak mungkin juga lebih penting dari hidup dan mati. Lebay jika menurut anak-anak sekarang. Tapi di dalamnya, ada nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan. Bahwa impian akan terwujud bagi siapa yang berlari hingga detik terakhir, tak hanya diam untuk mengangankan, bahwa impian akan terwujud bagi siapa yang berlari menciptakan kesempatan, tak hanya diam untuk menunggunya datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar