Seorang lelaki terlihat tengah bersitegang, atau mungkin
beradu argumen dengan sesosok perempuan cantik yang “protitipe”nya sering
terlihat di iklan-iklan sabun mandi; putih, tinggi, cantik. Sepintas kemudian
terlihat perempuan cantik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, yang
kemudian diketahui, bersamaan dengan kamera yang melakukan zoom, sehelai foto
yang menunjukkan bahwa si lelaki sedang bermesraan dengan perempuan lain. Aku
melewatkan adegan selanjutnya, karena menjadi tidak menarik ketika kita
mengetahui apa yang akan terjadi setelah adegan yang sebenarnya juga tidak
lebih klise. Fakta yang tidak dapat dipungkiri dari adegan klise itu adalah
bahwa selembar foto bisa bercerita lebih banyak dari apa yang bisa terucap.
Jika ada ungkapan mulutmu harimaumu, maka mungkin sudah saatnya ada kembang
susastra baru: fotomu, kartu matimu. Selembar foto bisa mengucapkan begitu
banyak hal. Tentang masa lalu yang tak pernah jadi masa silam; tentang
kemuraman langit senja di musim penghujan; keriangan masa kecil; dinginnya
malam kala menatap kerlip bintang dengan penuh harapan. Sehelai foto mungkin
akan menemukan tempatnya sendiri untuk tak lagi bersanding dengan kata-kata,
yang terkadang mengaburkan arti dari foto itu sendiri. Itu menjadi semacam
pembenar bagi banyak orang yang merasa kata-kata tak lagi bisa menemukan
artinya. Entah berapa banyak kata yang terhampar di dunia, dan kata-kata itu
tidak mengubah apapun. Dunia telah kelebihan kata-kata tanpa makna. Setiap kata
bisa diganti artinya. Setiap arti bisa digubah maknanya. Dunia mungkin masih
membutuhkan kata-kata, tapi kelak akan ada satu masa saat sehelai foto tak lagi
membutuhkan kata untuk mendampinginya. Seperti sesosok perempuan cantik yang
tak lagi membutuhkan seorang lelaki tak tahu diri yang berulang menyakiti
hatinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar