Minggu, 07 April 2013

ANTARA FOTO DAN KATA




Seorang lelaki terlihat tengah bersitegang, atau mungkin beradu argumen dengan sesosok perempuan cantik yang “protitipe”nya sering terlihat di iklan-iklan sabun mandi; putih, tinggi, cantik. Sepintas kemudian terlihat perempuan cantik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, yang kemudian diketahui, bersamaan dengan kamera yang melakukan zoom, sehelai foto yang menunjukkan bahwa si lelaki sedang bermesraan dengan perempuan lain. Aku melewatkan adegan selanjutnya, karena menjadi tidak menarik ketika kita mengetahui apa yang akan terjadi setelah adegan yang sebenarnya juga tidak lebih klise. Fakta yang tidak dapat dipungkiri dari adegan klise itu adalah bahwa selembar foto bisa bercerita lebih banyak dari apa yang bisa terucap. Jika ada ungkapan mulutmu harimaumu, maka mungkin sudah saatnya ada kembang susastra baru: fotomu, kartu matimu. Selembar foto bisa mengucapkan begitu banyak hal. Tentang masa lalu yang tak pernah jadi masa silam; tentang kemuraman langit senja di musim penghujan; keriangan masa kecil; dinginnya malam kala menatap kerlip bintang dengan penuh harapan. Sehelai foto mungkin akan menemukan tempatnya sendiri untuk tak lagi bersanding dengan kata-kata, yang terkadang mengaburkan arti dari foto itu sendiri. Itu menjadi semacam pembenar bagi banyak orang yang merasa kata-kata tak lagi bisa menemukan artinya. Entah berapa banyak kata yang terhampar di dunia, dan kata-kata itu tidak mengubah apapun. Dunia telah kelebihan kata-kata tanpa makna. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa digubah maknanya. Dunia mungkin masih membutuhkan kata-kata, tapi kelak akan ada satu masa saat sehelai foto tak lagi membutuhkan kata untuk mendampinginya. Seperti sesosok perempuan cantik yang tak lagi membutuhkan seorang lelaki tak tahu diri yang berulang menyakiti hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar