Minggu, 12 Mei 2013

Dara




Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Mendadak mulut ini tak bisa berbicara. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Sebagaimana, aku tak tahu apa harus kuungkapkan ini semua. Sepenggal dariku berharap ini tak perlu kamu ketahui. Separuhnya lagi berkata aku tak mungkin menafikan sesuatu yang telah mengisi mimpi-mimpiku sekian lama. Rangkaian kata yang kupilih sejak beberapa jam yang lalu, kemarin, kemarinnya lagi, seminggu, atau sebulan yang lalu, hanya memenuhi isi kepalaku.
Mengapa kata-kata justru hilang pada momen seperti ini. Aku mendadak bisu. Rahang ini terkatup. Kemampuanku berkata-kata lenyap. Sekujur tubuhku mendadak terasa begitu dingin. Pandangan mataku kosong.
“Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Sekuat tenaga ingin kumenjawab, tapi aku hanya bisa menggelengkan kepala.  
Lalu kemudian kamu kembali bercerita. Maaf, aku tidak menaruh atensi atas apa yang kamu ceritakan. Bagiku ada hal lain yang saat ini lebih penting untuk kupikirkan. Tapi seperti biasanya, kamu seperti telah mengerti, atau memahami, atas sikapku yang hanya menatapmu kosong untuk menanggapi segala ceritamu.
“Kamu tahu kenapa aku memilih restoran ini?”

Jumat, 26 April 2013

Sunyi Terindah




Aku tak lagi bisa berjanji, untuk tak lagi memikirkanmu dalam sepi, dalam kenangan tak bertepi

Aku tak lagi bisa berjanji, untuk tak lagi merindumu dalam balutan serpihan mimpi

Aku tak lagi bisa berjanji, untuk tak lagi mengenangmu, saat semua perjalanan dan tujuan hilang arti karena kau tak lagi disini

 Dan jika hanya teduh tatapmu yang selalu kunanti

Jika hanya garis tawamu yang selalu kucari

Jika hanya bersamamu selalu terucap di terdalamnya hati

Menantimu

Menunggumu lagi disini

Saat semua bintang bersinar dan kilaumu yang paling benderang

Jika desau angin bersenandung tentangmu

Menantimu

Menunggumu lagi disini

Adalah sunyi terindah yang kunanti

Rabu, 24 April 2013

Catatan kecil



Pemilik rumah membeli sebuah rumah tepat bersebelahan dengan rumah pertamanya, yang berlokasi di Bogor Park Residence, Pamoyanan, Bogor.  Sebagaimana ukuran rumah di perumahan, lebar rumah kedua yang dibeli oleh sang pemilik 9 meter dan panjang 12 meter. Pemilik rumah menginginkan desain rumah yang menggambarkan penggabungan keduanya dengan konsep rumah dua lantai.

Selasa, 23 April 2013

Sepakbola Mimpi



Apa yang terlintas di dalam benak seorang Luis Suarez saat menggigit Branislav Ivanovic? Atau mungkin ketika seorang maestro seperti  Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi dalam laga seakbar Final Piala Dunia? Demikian halnya dengan “tendangan kungfu” Eric Cantona kepada seorang supporter Crystal Palace, yang menurut pengakuan Cantona itu dilakukan sebagai pembelaan diri karena sang supporter telah mengejeknya.
Itu hanyalah sekelumit “kecil”. Matahari bersinar indah ketika pada pagi tanggal 14 Juli 1969, aksi militer Angkatan Udara El Salvador dimulai. Mereka meluncurkan serangan besar di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Negara El Salvador dengan Honduras. Pesawat-pesawat tempur El Salvador menari-nari di atas langit pulau-pulau Honduras di Golfo de Fonseca.
Untuk selanjutnya,  perang antara El Salvador dan Honduras, tercatat dalam sejarah sebagai perang antar dua Negara yang “disebabkan” oleh sepakbola
Maka tidaklah berlebihan, ketika banyak orang di berbagai belahan dunia percaya bahwa sepakbola bukan sekedar olahraga. Jangan tanyakan kebenaran pernyataan  kalimat ini pada para supporter fanatik sebuah klub sepakbola. Mereka akan tertawa, dan dengan santai menimpali. “Itu salah. Sepakbola lebih penting dari persoalan hidup mati.”

Rabu, 17 April 2013

Laga Pembuktian



Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, Barcelona menjelma menjadi klub paling ditakuti di Eropa. Merengkuh semifinal Liga Champions enam kali berturut-turut, juara di 2009 dan 2011 (juga di 2006), membuat klub asal Catalan itu, terutama pada era Pep Guardiola, dijuluki sebagai salah satu kesebelasan terbaik sepanjang sejarah.
Di era Pep Guardiola, Barcelona menyihir dunia dengan memainkan sepakbola dalam format  yang paling indah. 14 trofi dalam kurun waktu 4 tahun masa kepelatihan sang maestro, adalah prestasi yang mungkin akan sulit untuk diulang dalam kurun waktu yang panjang. “Sepanjang karier saya sebagai pelatih, mereka adalah tim terbaik yang pernah saya hadapi,” kata Sir Alex.
Selepas kepergian Guardiola, sekilas terlihat penurunan performa, dengan cedera berkepanjangan  seiring semakin menuanya  Carles Puyol, Xavi yang terlihat semakin melambat, dan absennya sang pelatih, Tito Vilanova karena pengobatan kanker yang dialaminya. Barca harus berjuang begitu keras untuk merengkuh semifinal ke-6 nya. Terkoyak di San Siro, sebelum Sang “Mesiah” kembali menunjukkan sihirnya dengan 2 golnya di Camp Nou, yang membuat keharusan untuk menang dengan agregat 3-0 menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Menghadapi PSG, tidak lebih baik. Mencetak 2 gol di Parc des Princes, Barca kembali menunjukkan sindrom “Messidependence”. Sebelum masuknya La Pulga, Barca hanya mencatat 2 tendangan ke gawang, rekor terendah mereka sejak 2003. Dan Victor Valdes harus melakukan 7 kali penyelamatan, rekor tertinggi sang kiper dalam 43 kali laga Barca di kompetisi Eropa. Lionel Messi, yang namanya semakin bergema seantero Camp Nou, setelah Javier Pastore menunjukkan betapa lemahnya lini belakang Barca, meski dalam keadaan cedera, kembali menunjukkan betapa Barca sangat bergantung kepadanya. “Satu kaki cukup untuk Messi,” kata headline sebuah harian di Spanyol.
Dan kini datanglah Bayern Muenchen. “Dalam banyak hal, Muenchen adalah cermin Barcelona,” kata Joan Laporta. Muenchen mengkombinasikan secara sempurna produk akademi sepakbola mereka dengan pemain berpengalaman. Muenchen juga merupakan gambaran ideal dari kondisi pengelolalan keuangan klub yang sehat. Dan faktor terakhir yang diyakini merupakan alasan mengapa Pep Guardiola lebih memilih untuk melatih FC Hollywood ketimbang gelontoran poundsterling taipan minyak; Muenchen adalah klub dengan filosofi sepakbola menyerang.
Pertandingan melawan Muenchen adalah tes terbesar bagi Barcelona apakah mereka akan melanjutkan era keemasan nya di Eropa. Juga untuk Muenchen, laga ini adalah pembuktian  untuk memulai dominasi mereka di Eropa, sekaligus mengakhiri era kejayaan Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Atau harus menunggu tangan dingin seorang Pep Guardiola untuk mengakhiri era Barcelona?

Senin, 15 April 2013

Jatuh Hati



                                                                     
                                                                     Jatuh Hati


Senja yang kelabu. Arakan awan mendung menyusuri langit, menutupi  bias-bias cahaya senja, yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik, penghilang rasa sakit dari kenyataan hidup yang melelahkan. Menyusuri jalan ini, tanpa ditemani siraman cahaya senja, membuat langkah kaki terasa berat. Meski aku merasa telah mempercepat derap langkahku, namun hujan turun lebih cepat. Aku terpaksa menepi. Tidak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah kafe. Orang-orang berhamburan menepi , mengambil tempat duduk, menyeruput secangkir kopi, dan menikmati makanan . Kafe itu tempat yang sempurna untuk berteduh, tapi tidak untukku.  Aku mencoba menikmati apa yang bisa aku nikmati. Tidak secangkir kopi, atau juga makanan kafe. Aku menikmati percikan air hujan yang membasahi  trotoar jalan. Waktu terasa begitu lambat. Hingga desah nafas tertatih itu menyadarkanku. 1 meter dariku ada sesosok perempuan. Aku tak menyadari kehadirannya. Ia sangat cantik. Rambut panjangnya berkilau, seperti kemilau cahaya senja. Ia mengenakan syal, gaya berpakaiannya sering aku lihat di etalase toko pakaian. Sekitar 1 meter dari dekatku, aku melihat salah satu perempuan tercantik yang pernah kulihat. Aku menoleh, menatap matanya. Dia juga. Mata kami saling bertemu. Momen saat ia menatapku, kumerasakan ada kupu-kupu menari di dalam perut, dan tenggorokanku terasa mengering.
Hujan belum juga reda. Entah untuk berapa lama aku harus berteduh disini. Sesaat yang lalu, aku berharap hujan ini segera mereda. Tapi tidak saat ini. Aku berharap hujan turun lebih lama. Aku berharap bisa lebih lama menatap perempuan terindah itu. Andai aku bisa mengajaknya berbincang sejenak. Seperempat, atau mungkin setengah jam, akan mencerahkan senjaku. Bertanya tentang dirinya, dan mungkin jika dia merespon, bercerita tentang diriku, apa yang  ia sukai, pekerjaannya. Dan jika aku beruntung, mungkin akan bertukar no telepon. Lalu kencan. Siapa yang tahu. Jalan hidup takkan pernah bisa kita duga ceritanya bukan?
Tapi bagaimana cara aku mendekatinya? Apa yang harus kukatakan untuk membuka percakapan?
“Selamat sore, cantik. Boleh kenalan ngga?”
 Aku yakin ia dengan senang hati lebih memilih kehujanan, daripada meladeni pertanyaan  konyol seperti itu.
“Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?”
4 kali Aku pernah mencoba kalimat ini untuk berkenalan dengan perempuan yang belum pernah kukenal sebelumnya, berhasil, tapi aku ragu kali ini akan memberi efek yang sama.
Aku berpikir keras. Teringat beberapa momen langka dalam hidupku, momen seperti ini, berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa berkenalan dengan bidadari-bidadari, namun semuanya kulewatkan begitu saja.  Tidak kali ini. Aku bisa merasakan ketika mata kami saling beradu dan saling menatap, ada kegugupan yang tak bisa kujelaskan. Dalam hitungan menit, perempuan cantik itu telah mendominasi ruang pikirku, sekaligus melumpuhkannya. Aku  harap ia adalah belahan jiwa yang kucari selama ini, yang kunanti di setiap mimpi. Aku berharap ia juga merasakan hal yang sama. Aku berharap ia termasuk seorang manusia yang berpikiran terbuka, bahwa cinta memang misteri yang tak pernah bisa kita duga, hingga bukanlah sebuah hal yang aneh bila kita bisa jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum kita kenal samasekali.
“Selamat sore. Kamu  begitu sempurna. Aku yakin kamu  100% sempurna untukku.”
Rinai hujan menyedot seluruh akal sehatku, seperti rasa ini yang melumpuhkanku. Dia melihatku dengan tatapan- bawa aku pergi dari sini-sesuatu yang telah aku duga sebelumnya. Tak ada yang bisa kulakukan. Perempuan terindah itu pergi meninggalkanku, tanpa memedulikan hujan yang semakin deras, tanpa pernah kutahu siapa namanya, tanpa pernah kudengar sepatah kata pun dari bibir mungilnya, sebelum aku sempat menyelesaikan apa yang hendak kuucapkan setelahnya. “Mungkin, aku telah jatuh hati kepadamu.”

Rabu, 10 April 2013

Senjahati





Seperti hujan yang berjatuhan dari langit, yang dengan lembut membasahi bumi dengan suaranya  yang begitu menyejukkan, Senja teringat sesuatu dalam hidupnya, saat menatap hujan yang turun dengan derasnya sore itu. Hujan itu mengingatkannya tentang perpisahan, tentang rasa yang tak akan pernah tersampaikan, tentang rasa sesal yang selalu bertahan dan tak akan pergi, tentang dia... Dia yang dengan sebentuk senyumannya membuatnya teryakinkan tak lagi mengharap nirwana, karena nirwana sesungguhnya ada di sini, di bumi, tempa tmanusia berkejaran dengan waktu untuk memenuhi segala yang ada di benak dan pikiran, dia yang bayangnya selalu mampu membuatnya mengangankan segala hal terindah
Hujan turun dengan indahnya sore itu.Rinainya membentuk  alunan nada yang menenangkan, dan seperti ribuan hujan lainnya, hujan selalu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang Senja. Diusapnya kaca jendela  yang berembun, jari-jari lentiknya mengikuti aliran air yang turun perlahan di kaca itu, mengenang detik-detik yang pernah ia genggam bersamanya, saat hujan selalu bisa menghadirkan momen terindah dalam hidupnya. Senja mengenang masa dimana dia begitu berbahagia karena rasa sayang yang begitu besar pernah diberikan seseorang di masal alunya. Hatinya bergetar dengan rasa yang sanggup membuat setiap waktu yang terlalui, setiap momen yang ia lewati dengannya, menjadi begitu bermakna. 
Kisah cinta dengan seseorang di masa lalu telah lama usai, namun segala kenangan tentangnya tak pernah usai. Di luar hujan masih saja menderas

Selasa, 09 April 2013

Barca bukan klub elite



Tak ada yang meragukan selama 4 tahun terakhir Barcelona menjelma menjadi sebuah klub yang begitu digdaya, hingga puja-puji merentang tertuju ke pada klub yang mempunyai slogan “M’esQue un club de futbol (Lebihdarisekedarklubsepakbola) ini terdengar dari seluruh penjuru dunia. Dibutuhkan kepercayaan diri di level yang sama dengan seorang Jose Mourinho untuk tidak menafikan fakta bahwa Barcelona berada di level permainan yang berbeda dengan klub lainnya. Namun bila ukurannya trofi Champions Eropa, maka Barcelona belum bisa dikategorikan sebagai klub elite Eropa.UEFA,sebagai institusi tertinggi sepak bola Eropa mengkategorikan sebuah klub termasuk ke dalam jajaran klub elite Eropa bila setidaknya telah mengangkat trofi Champions Eropa sebanyak lima kali atau setidaknya tiga kali juara secara berurutan. Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian dan kebesaran sebuah klub  UEFA memberi label jajaran klub elite ini sebagai “UEFA Badge of Honour”. Madrid dan Milan adalah dua klub yang masuk ke dalam anggota karena telah merengkuh trofi Champions Eropalebih dari lima kali, kemudian “The Reds” yang terakhir kali menjuarai Champions Eropa pada 2004. Dua klub pertama yang masuk ke dalam jajaran elite inia dalah Ajax, yang pada kurun 1971-1973, dan Bayern Muenchen pada 1974-1976, tiga kali secara beruntun menjuarai trofi paling bergengsi di benua biru ini. Meski mungkin akan ada perdebatan, atmosfer kompetisi pada waktu itu tidak sekompetitif seperti saat ini.

Saat yang Tepat

Hasil leg 1 di Parc des Princes adalah modal yang sangatberhargabagi Barcelona untuk menghadapiserdadu ratusan juta Euro yang .Mesk iharus dibayar mahal dengan cederanya  Sang Mesias dan Javier Mascherano pada leg 1, Barca ada di posisi yang “tepat” untuk melangkah ke babak semifinal. Tahun ini adalah saat yang tepat bagi Barca untuk meraih trofiLiga Champions, mengingatk omposisi pemain yang  tidak banya kberubah  di masa empat tahun terbaik dalam sejarah klub ini berada di masa keemasan mereka, tidak ada waktu untuk menunggu sebelum masa emas pemain yang ada sekarang perlahan memudar.