Jatuh Hati
Senja yang kelabu. Arakan awan
mendung menyusuri langit, menutupi
bias-bias cahaya senja, yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik,
penghilang rasa sakit dari kenyataan hidup yang melelahkan. Menyusuri jalan
ini, tanpa ditemani siraman cahaya senja, membuat langkah kaki terasa berat.
Meski aku merasa telah mempercepat derap langkahku, namun hujan turun lebih
cepat. Aku terpaksa menepi. Tidak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah kafe.
Orang-orang berhamburan menepi , mengambil tempat duduk, menyeruput secangkir
kopi, dan menikmati makanan . Kafe itu tempat yang sempurna untuk berteduh,
tapi tidak untukku. Aku mencoba
menikmati apa yang bisa aku nikmati. Tidak secangkir kopi, atau juga makanan
kafe. Aku menikmati percikan air hujan yang membasahi trotoar jalan. Waktu terasa begitu lambat.
Hingga desah nafas tertatih itu menyadarkanku. 1 meter dariku ada sesosok
perempuan. Aku tak menyadari kehadirannya. Ia sangat cantik. Rambut panjangnya
berkilau, seperti kemilau cahaya senja. Ia mengenakan syal, gaya berpakaiannya
sering aku lihat di etalase toko pakaian. Sekitar 1 meter dari dekatku, aku
melihat salah satu perempuan tercantik yang pernah kulihat. Aku menoleh, menatap
matanya. Dia juga. Mata kami saling bertemu. Momen saat ia menatapku,
kumerasakan ada kupu-kupu menari di dalam perut, dan tenggorokanku terasa
mengering.
Hujan belum juga reda. Entah untuk
berapa lama aku harus berteduh disini. Sesaat yang lalu, aku berharap hujan ini
segera mereda. Tapi tidak saat ini. Aku berharap hujan turun lebih lama. Aku
berharap bisa lebih lama menatap perempuan terindah itu. Andai aku bisa
mengajaknya berbincang sejenak. Seperempat, atau mungkin setengah jam, akan
mencerahkan senjaku. Bertanya tentang dirinya, dan mungkin jika dia merespon,
bercerita tentang diriku, apa yang ia sukai,
pekerjaannya. Dan jika aku beruntung, mungkin akan bertukar no telepon. Lalu
kencan. Siapa yang tahu. Jalan hidup takkan pernah bisa kita duga ceritanya
bukan?
Tapi bagaimana cara aku
mendekatinya? Apa yang harus kukatakan untuk membuka percakapan?
“Selamat sore, cantik. Boleh
kenalan ngga?”
Aku yakin ia dengan senang hati lebih memilih
kehujanan, daripada meladeni pertanyaan
konyol seperti itu.
“Maaf, apa sebelumnya kita pernah
bertemu?”
4 kali Aku pernah mencoba kalimat
ini untuk berkenalan dengan perempuan yang belum pernah kukenal sebelumnya,
berhasil, tapi aku ragu kali ini akan memberi efek yang sama.
Aku berpikir keras. Teringat beberapa
momen langka dalam hidupku, momen seperti ini, berada di tempat dan waktu yang
tepat untuk bisa berkenalan dengan bidadari-bidadari, namun semuanya kulewatkan
begitu saja. Tidak kali ini. Aku bisa
merasakan ketika mata kami saling beradu dan saling menatap, ada kegugupan yang
tak bisa kujelaskan. Dalam hitungan menit, perempuan cantik itu telah
mendominasi ruang pikirku, sekaligus melumpuhkannya. Aku harap ia adalah belahan jiwa yang kucari
selama ini, yang kunanti di setiap mimpi. Aku berharap ia juga merasakan hal
yang sama. Aku berharap ia termasuk seorang manusia yang berpikiran terbuka,
bahwa cinta memang misteri yang tak pernah bisa kita duga, hingga bukanlah
sebuah hal yang aneh bila kita bisa jatuh cinta pada seseorang yang bahkan
belum kita kenal samasekali.
“Selamat sore. Kamu begitu sempurna. Aku yakin kamu 100% sempurna untukku.”
Rinai hujan menyedot seluruh akal
sehatku, seperti rasa ini yang melumpuhkanku. Dia melihatku dengan tatapan-
bawa aku pergi dari sini-sesuatu yang telah aku duga sebelumnya. Tak ada yang
bisa kulakukan. Perempuan terindah itu pergi meninggalkanku, tanpa memedulikan
hujan yang semakin deras, tanpa pernah kutahu siapa namanya, tanpa pernah
kudengar sepatah kata pun dari bibir mungilnya, sebelum aku sempat
menyelesaikan apa yang hendak kuucapkan setelahnya. “Mungkin, aku telah jatuh hati
kepadamu.”