Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, Barcelona menjelma
menjadi klub paling ditakuti di Eropa. Merengkuh semifinal Liga Champions enam
kali berturut-turut, juara di 2009 dan 2011 (juga di 2006), membuat klub asal
Catalan itu, terutama pada era Pep Guardiola, dijuluki sebagai salah satu
kesebelasan terbaik sepanjang sejarah.
Di era Pep Guardiola, Barcelona menyihir dunia dengan
memainkan sepakbola dalam format yang
paling indah. 14 trofi dalam kurun waktu 4 tahun masa kepelatihan sang maestro,
adalah prestasi yang mungkin akan sulit untuk diulang dalam kurun waktu yang
panjang. “Sepanjang karier saya sebagai pelatih, mereka adalah tim terbaik yang
pernah saya hadapi,” kata Sir Alex.
Selepas kepergian Guardiola, sekilas terlihat penurunan
performa, dengan cedera berkepanjangan
seiring semakin menuanya Carles
Puyol, Xavi yang terlihat semakin melambat, dan absennya sang pelatih, Tito
Vilanova karena pengobatan kanker yang dialaminya. Barca harus berjuang begitu
keras untuk merengkuh semifinal ke-6 nya. Terkoyak di San Siro, sebelum Sang
“Mesiah” kembali menunjukkan sihirnya dengan 2 golnya di Camp Nou, yang membuat
keharusan untuk menang dengan agregat 3-0 menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Menghadapi
PSG, tidak lebih baik. Mencetak 2 gol di Parc des Princes, Barca kembali
menunjukkan sindrom “Messidependence”. Sebelum masuknya La Pulga, Barca hanya
mencatat 2 tendangan ke gawang, rekor terendah mereka sejak 2003. Dan Victor
Valdes harus melakukan 7 kali penyelamatan, rekor tertinggi sang kiper dalam 43
kali laga Barca di kompetisi Eropa. Lionel Messi, yang namanya semakin bergema
seantero Camp Nou, setelah Javier Pastore menunjukkan betapa lemahnya lini
belakang Barca, meski dalam keadaan cedera, kembali menunjukkan betapa Barca
sangat bergantung kepadanya. “Satu kaki cukup untuk Messi,” kata headline
sebuah harian di Spanyol.
Dan kini datanglah Bayern Muenchen. “Dalam banyak hal,
Muenchen adalah cermin Barcelona,” kata Joan Laporta. Muenchen mengkombinasikan
secara sempurna produk akademi sepakbola mereka dengan pemain berpengalaman.
Muenchen juga merupakan gambaran ideal dari kondisi pengelolalan keuangan klub yang
sehat. Dan faktor terakhir yang diyakini merupakan alasan mengapa Pep Guardiola
lebih memilih untuk melatih FC Hollywood ketimbang gelontoran poundsterling
taipan minyak; Muenchen adalah klub dengan filosofi sepakbola menyerang.
Pertandingan melawan Muenchen adalah tes terbesar bagi
Barcelona apakah mereka akan melanjutkan era keemasan nya di Eropa. Juga untuk
Muenchen, laga ini adalah pembuktian untuk
memulai dominasi mereka di Eropa, sekaligus mengakhiri era kejayaan Barcelona
dalam beberapa tahun terakhir. Atau harus menunggu tangan dingin seorang Pep
Guardiola untuk mengakhiri era Barcelona?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar