Rabu, 21 Mei 2014

Tak Lagi Sama











Tak Lagi Sama

Orang-orang menyebutnya kota tua.
Monumen, mural, artefak museum, patung-patung pahlawan; kepingan jejak kecil kota ini, bagian dari usaha manusia untuk melawan lupa. Semacam kerja kolektif untuk merawat ingatan, bahwa di masa lalu pernah ada jiwa-jiwa yang rela mempertaruhkan nyawa untuk merebut apa yang disebut dengan: kebebasan
Di kota tua, orang-orang akan selalu kembali. Menemukan betapa masa lalu selalu mendapat tempat istimewa dalam sejarah hidup manusia. Barangkali ketenangan dan keindahannya, tempat yang sempurna bagi orang-orang asing mendamparkan diri dari keriuhan dunia. “Kita juga asing,” katanya malam itu. “Disini, kita akan selalu tertegun melihat begitu banyak orang asing berlalu lalang.”
Kamu menoleh ke belakang sekali lagi, ke arah pintu yang seolah baru dia tinggalkan. Tepat di pintu itu, sosoknya pernah muncul. Di pintu itu, kamu selalu menemukan dia. Merasakan momen-momen yang mengasingkanmu dari dunia, sedemikian rupa hingga kamu tak bisa memahami, mengapa dalam duniamu, hanya dia selalu. Mata kalian bertemu. Sejenak. Kamu tertunduk malu, menyembunyikan wajah di balik novel Unbereable Lightness of Being yang kamu pegang dengan tegang.
Tahun demi tahun. Kamu sepenuhnya menyadari, tak akan lagi menemukannya di kota ini. Tapi kamu selalu kembali. Bukan untuk mengkhidmati jejak-jejak peninggalan sejarah, Kamu kembali untuk mereguk masa silam, tentang awal sebuah kisah. Di satu sudut kota, di sebuah kafe. Waktu mungkin bisa mengubah umur manusia, tapi waktu tak mampu mengubah semua rasa yang kamu simpan untuknya. Di kafe ini tempatmu memutar ulang gambar-gambar yang berkelindan dalam kepala. Segala sesuatu yang masih tertinggal—orang-orang menyebutnya sebagai kenangan. Sesuatu yang membuatmu terlampau ingin untuk kembali.  
Kafe tua ini tak banyak jauh berubah. Warna-warna yang dibiarkan pudar pada dinding batu bata merah, jendela-jendela panjang dan agak tinggi, lantai yang terbuat dari kayu lama, langit-langit kafe dengan hiasan lampu-lampu tua, dan lis kayu lusuh yang terdapat di sekeliling ruang.
Bajunya putih, sedikit berenda. Dia mengenakan rok bermotif bunga yang menunjukkan kaki jenjangnya. Kulitnya lembut warna putih awan. Dengan mata seperti batu pualam dan rambut hitam bergelombang menyentuh bahu, sekujur tubuhnya memancar sinar kehidupan yang menyegarkan. Dari jarak tujuh meter kamu tahu : dia perempuan tercantik yang pernah kamu lihat.
Kelak, dari samping jendela kafe, saat tubuhnya hilang ditelan bayangan gedung-gedung toko tua dan deretan kios-kios kecil yang berjajar rapi seperti tentara, hatimu berdebar penuh tanya, akankah dia kembali setelah pertemuan yang pertama?
Sekonyong dia telah berdiri di samping mejamu. Suara empuknya menyengatmu begitu saja. “Kosong?” Dia menunjuk ke kursi di depanmu. Kamu tak yakin dia sedang berbicara padamu. Kamu celinguk ke kiri dan kanan, seperti orang kebingungan. Dia tersenyum melihatmu. Geli. Lucu. “Kosong?” ia bertanya lagi. Bibirmu tak mengatakan apa-apa. Tapi kepalamu mengangguk.
Dia duduk, menyilangkan kaki. Dia mengulurkan tangan, dan kalian berjabatan tangan. Semilir harum meruap dari telapak tangannya yang bergaris-garis halus. Sejenak kamu merasa seolah menggenggam tangan seorang bidadari. Kalian berdua memesan secangkir kopi. Tak lama, pelayan datang membawa pesanan. Tanpa memasukkan gula dan krim, kalian menghirupnya perlahan-lahan. Nyaris bersamaan. Seketika kalian tertawa. Seketika sorot matanya menangkapmu. Menyeretmu dalam arus yang misterius. Ada kegugupan yang tak kaumengerti.  Dia tertawa. Geligi putih dan senyumannya terlihat begitu indah, seperti alunan simfoni yang menggugah. Kamu terpesona. Terpana. Bola matanya berwarna pualam. Dalam. Nyaris membuatmu tenggelam.
“Aku selalu percaya ada kehidupan di masa lalu,” katanya, “dan hey, kita pernah bertemu.” Kamu sekuat tenaga menutupi rasa heran, ketidakmengertian. “Dari dulu kamu tak pernah berubah. Kamu suka bepergian sendiri, makan sendiri. Kamu menyukai kesendirian.” Seumur hidup kamu belum pernah bertemu manusia yang sungguh meyakini konsep reinkarnasi, Kamu tak tahu bagaimana harus berkomentar selain mendengarkan.
Tapi, sesuatu dalam kata-katanya membuat tengkukmu meremang. Dia seperti bisa melihat hidupmu.
Rasanya sulit dipercaya, tapi entah bagaimana, dia seperti tahu semuanya. Dia tahu apa yang kamu suka dan yang tidak. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu, yang bahkan kamu sendiri telah membiarkannya berlalu.
Dalam lorong gelap ketidakmengertian, kamu seraya mencuri-curi pandang. Mungkin karena dia begitu indah. Wajah yang mengingatkanmu tentang eloknya sebuah anugerah. Kamu tak memedulikan betapa sesungguhnya dia telah membuat hatimu resah. Dia melirikmu sedikit. Sedikit, tapi cukup untuk membuat hatimu jungkir balik.
“Kita dua orang pengelana abadi di negeri asing, tiba-tiba merasa begitu dekat dengan rumah.” Lagi, dia melontarkan kata yang tak bisa kamu cerna. Gelagapan, kamu tertegun, hendak bertanya arti semua kata yang kamu dengar, tapi hatimu menolak mengucapkan apa yang ada dalam benak. Kamu menolak memperlihatkan jejak ketidaktahuan di hadapan perempuan yang menguarkan harum lembut mahal. Kamu biasanya cenderung pemalu dan tak mudah berbicara dengan perempuan. Tapi dengan si Cantik, kamu merasa memiliki semacam dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Kamu menolak menghapus kemungkinan untuk bisa mengenal si Cantik lebih jauh. Kemungkinan yang mengetuk pintu hatimu. Kemungkinan yang melambungkan anganmu.
Lalu, di bawah waktu, kamu segera percaya bahwa kerumitan takdir telah membawamu untuk bisa saling berdekatan dengannya di sebuah kafe di kota tua pada satu malam yang indah. Sekonyong malam terasa begitu merah. Kamu dan dia tak ingin berpisah.
Di bawah waktu, sekat-sekat di antara kalian remuk seketika. Kamu menjadi percaya bahwa selama ini kalian adalah sepasang jiwa yang terlibat komitmen abadi untuk saling mencari. Dua jiwa yang terpisah oleh kematian dan janji untuk selalu bersua lagi. Terlalu banyak kesamaan yang terlampau banyak terlampau kerap jika disebut sebagai sebuah kebetulan semata. Kamu menatapnya. Dia menatapmu. Tanpa sepatah kata pun, kalian sepakat, terpisah hanya sebuah cara untuk kembali saling menemukan. Kamu menggenggam tangannya. Dia menggelayut manja. Bergandengan, kalian menyusuri waktu yang tersisa.
Pasir putih begitu lembut di bawah telapak kalian yang telanjang. Beberapa camar terbang rendah di langit pagi yang cerah. Laut dan langit beradu biru. Dia menatapmu. Kali ini dengan mata yang membentangkan laut. Biru. Waktu mencair jadi sesuatu yang tak kaukenali. Tubuhnya bergelimang cahaya yang terpantul dari titik-titik air. Laut seperti terdengar gaduh dan gemuruh.
Deru ombak ini kelak akan mengingatkanmu padaku, dia berbisik. Tanpa deru ombak ini, aku akan selalu mengingatmu, balasmu. Dia hanya tersenyum. Dan berjalan. “Ke mana?” Dia hanya terdiam. Langit seketika terasa kelam. “Ke mana?” Tanyamu lagi. Hampamu bergumul dengan ombak yang bergulung. Langkah-langkahnya seperti menjauh. Kamu menunggu. Pulang, dia menjawab. Jika sudah waktunya, hidup akan mengubah kanal aliran dengan sendirinya. Suara itu terdengar seperti datang dari dunia lain. Tidak. Aku tidak boleh kehilangan dia. Tidak setelah kehadirannya menggulungku tiba-tiba. Begitu saja. Ia memberi alasan baru bagiku untuk hidup. Persis seperti kehadirannya yang mengusik kesendirianmu. Hadirnya dimulai di tanah dan berakhir di laut — tepat saat hatimu telah terpagut.
Kamu tercekat. Terbata. Tiga hari yang lalu, perempuan terindah itu tanpa ragu menobatkanmu sebagai jiwanya yang terbelah, yang ia nanti selama seperempat abad tanpa lelah. Tiga hari, yang awalnya kamu pikir, akan jadi untuk selamanya. Tepat di hari ketiga, dia mengemas semua yang pernah kalian lalui dengan rapi. Tadi pagi, setelah satu potong quiche dan secangkir the panas, pelan dia membereskan barang-barangnya yang terserak, lalu memasukannya satu demi satu ke dalam tas. Memastikan tak ada satupun barangnya yang tertinggal, Juga hatinya. Juga semua ucapannya. “Kelak kita akan kembali saling menemukan,” katanya ringan, tanpa beban. Tanpa menoleh ke arahmu.
Dia berjalan. Geraknya agak tertahan seperti meredam gesa. Tapi sebelum langkahnya benar-benar menjauh, perlahan dia memalingkan wajah. Tersenyum, dingin. Lalu berucap. Ucapan yang terdengar seperti datang dari kejauhan. “Jika kita sungguh-sungguh ditakdirkan sebagai belahan jiwa masing-masing, maka tanpa kesulitan pada satu waktu pada satu tempat kita akan kembali saling menemukan.”  
Kamu mengirim isyarat hampa ke arah matanya yang dalam, yang menghanyutkanmu seperti gemuruh ombak di lautan. Lalu tersenyum getir. Itu terdengar seperti sebuah lelucon. Tapi, kamu tahu itu bukan sebuah lelucon ketika sesuatu yang hidup tercerabut dari hati. Rasanya seperti dipukul tepat di ulu hati. Berkali-kali. Sakit sekali. Waktu hening, seperti akan jadi selamanya. Mungkin harusnya kamu tak merasa rindu pada sesuatu yang tak kau tahu. Mungkin sebaiknya di malam itu kamu tetap menjadi dirimu yang seharusnya; lelaki pemalu dan lugu. Mungkin harusnya di malam itu kamu menaruh hati secara pelahan, jangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Yang membuatmu terbang begitu tinggi, sekaligus jatuh menghujam bumi. Dan kamu nyaris mati. Tapi di malam itu, kamu telah bertemu dia. Bukan cuma mimpi dan imaji. Bukan pula sebuah hologram. Dia nyata. Senyata rasa sakit yang kamu rasa. Senyata titik jauh di tengah samudera.
Kamu selalu duduk di kursi yang sama, meja yang sama, di samping jendela yang sama. Kamu akan melihat keluar jendela, ke jalan yang selalu sibuk. Di antara orang yang berlalu lalang, matamu tak pernah luput menangkapnya. Hanya dibutuhkan satu kedipan mata untuk mengembalikannya kembali ke sini. Dari jendela kafe kamu melihatnya berjalan menyusuri sudut kota. Dia  terlihat seperti bukan fantasi. Kamu yakin, pasti tidak sedang bermimpi. Keindahannya begitu pekat tertera di bumi. Rambut panjangnya terlihat tertata rapi seperti baru keluar dari salon. Tubuh semampainya melangkah anggun dibalut jins ketat dan tank-top. Kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang selalu bercahaya.
Angin dingin tiba-tiba berhembus entah dari mana. Udara lembut menyentuh kulitmu. Entah mengapa. Mungkin karena dengan membayangkannya memberimu perasaan sejuk. Wajah yang mengingatkanmu pada hari-hari hujan di kotamu.
Waktu memang bisa mengacaukan segalanya: kenyataan dan imaji, harapan dan ilusi. Berapa lama semua sudah berlalu. Sepuluh tahun? Lima belas? Gagasan tentang waktu tak terpikir olehmu. Belasan tahun yang telah terentang tak berarti apa-apa bagimu. Dari semua penjuru, semesta pelahan menyurut, menjadi dia di hadapanmu. Masih menatapmu dengan mata yang begitu indah. Sepanjang hidup kamu mencari seseorang yang menatap seperti dia menatap. Mata yang sekilap bintang, melambungkanmu ke titik paling benderang.
Kali ini kamu tak memesan secangkir kopi. Malam meresap seperti sesap buih terakhir pada segelas bir. Gelas bir kedua. Lalu ketiga. Lalu entah. Ingatan terlontar di saat segalanya telah menjadi getir. Segelas bir selalu jadi pelarian yang terus menerus ketika imaji tentangnya tak pernah selesai. Hari, bulan, tahun, datang silih berganti, tapi bayangnya seperti tak bisa terganti. Mungkin dibutuhkan ribuan hari untuk dapat mengucap selamat tinggal pada tiga hari yang kamu lalui dengannya. Perempuan terindah itu pernah meninggalkan rasa yang pernah membuatmu begitu ingin melakukan apa saja untuk bisa menghabiskan hidup bersamanya: cinta. Rasa yang tertinggal abadi. Meski waktu telah menyapunya ke ketiadaan. Gaung suaranya tertinggal hingga detik ini. Desah bisiknya terserak di ruang sunyi. “Kamu yang kucari selama ini.”







 

Jumat, 16 Mei 2014

Ujung Cerita



Ujung Cerita


Di barat cahaya magis matahari memeluk erat. Memeluk jalan-jalan, papan-papan iklan, kendaraan yang semakin berhimpitan, dinding-dinding kusam, stasiun tua yang temaram, dan tubuh dua orang yang berdiri bersisian dengan hati memuram.
Lalu sepi. Langit memerah. Seketika udara menghembuskan suara-suara. Ribuan derak langkah tergesa. Mereka yang tak pernah berhenti dari upacara kehidupan, seolah hidup adalah sebuah pasung atas kebebasan. Semua bergerak. Awan, senja, kereta, manusia.
Kecuali aku. Dan kamu, yang mematung di sisiku. Kesedihan memaku sekujur pilu di lantai hingga beku.
Cahaya magis itu semakin lama semakin jingga. Sebelum pelahan akan kembali pulang, ke balik cakrawala. Aku menatap mega bersepuh cahaya itu seolah menatap keindahan yang segera hilang. Seperti kebahagiaan. Seperti kisah kita.   
Kini tiada lagi kisah. Kini semua berakhir sudah. Sungguh bukanlah hal yang mudah, untuk menerima kenyataan kamu dan aku akan benar-benar berpisah. Kelak, semua tentang kita hanya akan menjadi sejarah. Kata-kata menguap tak tersisa, seperti bunyi pada ruang hampa. Tak ada tempat untuk menyembunyikan duka selembut air mata, tapi di tengah hiruk pikuk keramaian manusia, membuatku tak mungkin menitikannya. Telah kita arungi senja demi senja yang penuh kerisauan, tapi senja kali ini adalah senja yang paling berlumur kepedihan.
Menemukanmu adalah bahagia yang tak terencana. Dan hari-hari bersamamu adalah bahagia yang tak terkira. Tapi hidup seperti punya jatah waktu yang boleh kita arungi bersama. Sia-sia bertahan. Sia-sia melawan. Kita akan selalu kalah, bisikmu lirih. Tapi kita bisa melawan, tangisku. Kamu hanya bisa menggeleng lemah. Jangan menyerah, lirihku. Aku tak mungkin meninggalkan mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Meninggalkan ribuan hari yang terlalui bersama. Berapa lamakah itu? Delapan tahun? Sembilan? Sembilan tahun enam bulan sebelas hari katamu.
Aku tak mungkin meninggalkan mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Kesedihan seperti ingin mendesak keluar dari tempat kita berbaring. Seperti hasrat yang membabi buta. Saat tangan kita terpaut, sang waktu menyusutkan tubuhnya. Malam banjir akan adrenalin. Malam menjelma serupa pucuk-pucuk cemara hijau yang senantiasa mendesau. Di tiap inci, tiap relung dan lipatan.
Apakah kamu menyayangiku? Tak ada jawaban. Mungkin memang tak perlu. Itu terdengar sama bodohnya dengan sebuah tanya pada manusia: apakah kamu butuh udara? Mungkin memang selama ini kita mengarungi hal yang hampir mustahil. Rengkuhanmu menyisakan sedikit ruang. Jangan pergi, bisikku. Tapi sesudah malam ini, aku bukan lagi milikmu. Begitu juga sebaliknya. Mungkin aku memang sudah kehilanganmu sejak pertama mengenalmu. Kamu tak mungkin meninggalkan mereka. Tapi kamu bisa meninggalkan pangeran kecilku yang kerapkali terbangun sendiri di dini hari, menyebut-nyebut namamu, saat kamu berada ribuan mil dari rumah—di tempatmu seharusnya berada. Sebab mungkin sepanjang hidupnya ia tak pernah mengenal sosok seorang ‘ayah’. Dan anak lelaki delapan tahun itu hanya bisa tergugu saat kamu benar-benar pergi. Naluriku sebagai ibu mengatakan kepedihannya melompat jauh melebihi rasa kehilanganku.
Kita; seperti air dan api. Hidup dalam satu ruang menjadi sebuah kemustahilan. Segala yang mengikat di sekelilingmu terlalu banyak. Setiap malam aku membisik doa. Berharap ada sesuatu yang menuntunmu untuk mendapat kekuatan. Kekuatan untuk mendobrak. Membebaskan dirimu sendiri. Tapi mungkin rindu terlarang tak punya penawar seperti ‘cinta terlarang’ yang mungkin tak akan direstui penghuni surga.
Ketakutan selalu mengikat kita pada hal yang paling kita takuti. Ia terus menghantui kemana pun kita pergi, menjelma jadi mimpi buruk yang enggan berakhir. Seperti anjing penjaga yang teramat setia, ia menunggu di batas tipis yang memisahkan tidur dan terjagamu. Rasa takut kehilangan itu terasa seketika nyata, seperti seseorang yang dulu datang memeluk rasa sendiriku. Dunia tiba-tiba menjelma serupa mimpi buruk, menyergap dalam sebuah kenyataan yang tak bisa kupercaya.
Aku memejamkan mata yang pedih. Kamu memelukku tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak akan pergi, bisikku di dadamu. Kamu memelukku kencang. Kita telah sampai di ujung cerita. Dari debar di jantungku, aku berharap kamu merasakan selama ini aku hidup dengan mencintaimu. Namun waktu, lokomotif besar yang mengisap dan menarik segalanya itu, seakan berjalan lebih cepat, menjauhkan tubuhmu dari jangkauanku. Rasa hampa meresap tiba-tiba seiring tubuhmu yang semakin lenyap diseret kereta. Haruskah aku lari dari kenyataan pahit ini?
Langit berubah sepia. Wajah-wajah memudar. Suara-suara menyepi. Bentang semua harapan bergerak menjauh, terserak ke segala titik yang terlihat mengabur. Aku kehilangan semua bayangan. Lalu tak ada lagi dirimu. Hingga di ujung cerita, aku tak mampu ucapkan selamat tinggal itu.

Sabtu, 10 Mei 2014

Sejuta Mimpi





Sejuta Mimpi

Mungkin satu waktu kita pernah merasa lelah menggapai mimpi yang kita punya. Dibawah cengkeraman awan hitam, kita terdiam, saling terpaku dalam kegelapan. Dan kita meragu akankah terus bergandengan tangan, akankah tetap bertahan untuk sejuta impian.
Kita berhenti sejenak karena segala menjadi gelap. Bayang-bayang kegagalan menyeruak serupa dinginnya tatapan kesunyian di hening malam. Dalam gelap, kita mencoba saling menopang untuk bangkit bersama.
Dan, dalam gelap… kita masih bisa bermimpi. Karena kita tak akan membiarkan diri untuk dikendalikan rasa takut. Setegar karang yang memaku ombak, kita yakin untuk terus bertahan. Sebagaimana yang pernah terjadi, dan akan terus terjadi, gelap itu akan kita lewati. Karena kita percaya, di kala kita memutuskan untuk berani bermimpi, menggapainya dengan jutaan langkah kecil, meneguhkannya dengan keyakinan hati, mengindahkannya dalam untaian doa, ada Sang Maha yang senantiasa mengulurkan tangan-Nya dengan cara yang muskil dimengerti, tak terjamah, namun indah, mewujudkan sejuta mimpi yang kita punya hingga tergapai nyata.

Senin, 05 Mei 2014

Hening



Hening


Dalam hening, sesungguhnya engkau mampu mendengar hingar-bingar. Yang tak mungkin terlewatkan. Pun terlupakan. Jauh sekali aku dulu sempat memperingatkan. Entah apa yang membuatmu terlena, karena bisa kulihat engkau meringkuk dengan nyaman.
Kini, satu per satu meninggalkanmu. Seseorang yang kamu panggil dengan sebutan sayang, meski aku tak sepenuhnya yakin dia pujaanmu seorang. Begitu banyak bunga yang bermekaran dengan indah, silih berganti hinggap dalam dekapanmu. Dan semua bunga itu kamu memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Kini, angin telah meniup bunga-bunga itu. Berlesatan satu per satu.
Lalu barisan manusia yang kamu sebut teman. Atas nama persahabatan, kamu memberi mereka akses ke dalam kehidupanmu, ke sekujur tubuhmu, yang begitu melenakanmu. Tak ada lagi sekat. Untuk apa yang seharusnya menjadi obat. Atas nama persahabatan, kamu memberi mereka akses, yang maaf, menurutku sangat berlebihan. Hingga membuatmu tak lagi bisa membedakan antara ketulusan dan kemunafikan. Dan kini disaat engkau membutuhkan— kehadiran dan dukungan mereka— tak satupun datang, mengulurkan tangan. Satu per satu berbalik, meninggalkanmu. Untukmu, mereka tak lagi ada.
Dalam hening ini, aku ada di sekelilingmu. Di sampingmu. Jangan engkau hela beban itu sendiri. Jangan kamu tarik lenganmu untuk merengkuh dirimu sendiri.
Masih banyak hal yang bisa kaulakukan. Ketika satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang membuatmu merasakan manis kehidupan.
Biarkan aku menuntunmu. Ulurkan jari jemarimu. Rasakan seisi semesta memanggil namamu. Tak peduli apa yang terjadi dengan dirimu. Dengan hidupmu. Aku akan selalu ada untukmu. Di dekatmu.
Keterpurukan ini hanya sebuah fase dalam hidupmu. Satu persinggahan yang tak akan melumpuhkanmu. Harapan akan selalu ada, selama engkau menginginkan. Yang kamu butuhkan hanyalah kekuatan hatimu, untuk terus melangkah. Merangkai kembali mimpi-mimpimu dengan untaian doa dan ribuan langkah kecil merangkai karya nyata.
Aku percaya, di dalam hatimu, masih ada matahari kecil yang selalu berpijar. Sebagai penerang dalam hidupmu. Sebagai tanda bahwa dalam gelap, ada terang yang tak akan terhenti untuk tetap bersinar. Yang pijarnya akan menerangi jalan untuk segala harapanmu.
Sebab dalam keheningan, engkau akan melihat segala yang terbaik dari dirimu. Untuk mendengar semua suara hati yang selama ini berbisik lirih, saat kau selalu merasa sendiri dalam sedih. Ada aku disini, jangan lagi kau merasa sendiri.