Tak Lagi Sama
Orang-orang
menyebutnya kota tua.
Monumen,
mural, artefak museum, patung-patung pahlawan; kepingan jejak kecil kota ini,
bagian dari usaha manusia untuk melawan lupa. Semacam kerja kolektif untuk
merawat ingatan, bahwa di masa lalu pernah ada jiwa-jiwa yang rela
mempertaruhkan nyawa untuk merebut apa yang disebut dengan: kebebasan
Di
kota tua, orang-orang akan selalu kembali. Menemukan betapa masa lalu selalu
mendapat tempat istimewa dalam sejarah hidup manusia. Barangkali ketenangan dan
keindahannya, tempat yang sempurna bagi orang-orang asing mendamparkan diri
dari keriuhan dunia. “Kita juga asing,” katanya malam itu. “Disini, kita akan
selalu tertegun melihat begitu banyak orang asing berlalu lalang.”
Kamu
menoleh ke belakang sekali lagi, ke arah pintu yang seolah baru dia tinggalkan.
Tepat di pintu itu, sosoknya pernah muncul. Di pintu itu, kamu selalu menemukan
dia. Merasakan momen-momen yang mengasingkanmu dari dunia, sedemikian rupa hingga
kamu tak bisa memahami, mengapa dalam duniamu, hanya dia selalu. Mata kalian
bertemu. Sejenak. Kamu tertunduk malu, menyembunyikan wajah di balik novel Unbereable Lightness of Being yang kamu
pegang dengan tegang.
Tahun
demi tahun. Kamu sepenuhnya menyadari, tak akan lagi menemukannya di kota ini.
Tapi kamu selalu kembali. Bukan untuk mengkhidmati jejak-jejak peninggalan
sejarah, Kamu kembali untuk mereguk masa silam, tentang awal sebuah kisah. Di
satu sudut kota, di sebuah kafe. Waktu mungkin bisa mengubah umur manusia, tapi
waktu tak mampu mengubah semua rasa yang kamu simpan untuknya. Di kafe ini
tempatmu memutar ulang gambar-gambar yang berkelindan dalam kepala. Segala sesuatu
yang masih tertinggal—orang-orang menyebutnya sebagai kenangan. Sesuatu yang
membuatmu terlampau ingin untuk kembali.
Kafe
tua ini tak banyak jauh berubah. Warna-warna yang dibiarkan pudar pada dinding
batu bata merah, jendela-jendela panjang dan agak tinggi, lantai yang terbuat
dari kayu lama, langit-langit kafe dengan hiasan lampu-lampu tua, dan lis kayu
lusuh yang terdapat di sekeliling ruang.
Bajunya
putih, sedikit berenda. Dia mengenakan rok bermotif bunga yang menunjukkan kaki
jenjangnya. Kulitnya lembut warna putih awan. Dengan mata seperti batu pualam
dan rambut hitam bergelombang menyentuh bahu, sekujur tubuhnya memancar sinar
kehidupan yang menyegarkan. Dari jarak tujuh meter kamu tahu : dia perempuan
tercantik yang pernah kamu lihat.
Kelak,
dari samping jendela kafe, saat tubuhnya hilang ditelan bayangan gedung-gedung
toko tua dan deretan kios-kios kecil yang berjajar rapi seperti tentara, hatimu
berdebar penuh tanya, akankah dia kembali setelah pertemuan yang pertama?
Sekonyong
dia telah berdiri di samping mejamu. Suara empuknya menyengatmu begitu saja.
“Kosong?” Dia menunjuk ke kursi di depanmu. Kamu tak yakin dia sedang berbicara
padamu. Kamu celinguk ke kiri dan kanan, seperti orang kebingungan. Dia
tersenyum melihatmu. Geli. Lucu. “Kosong?” ia bertanya lagi. Bibirmu tak
mengatakan apa-apa. Tapi kepalamu mengangguk.
Dia
duduk, menyilangkan kaki. Dia mengulurkan tangan, dan kalian berjabatan tangan.
Semilir harum meruap dari telapak tangannya yang bergaris-garis halus. Sejenak
kamu merasa seolah menggenggam tangan seorang bidadari. Kalian berdua memesan
secangkir kopi. Tak lama, pelayan datang membawa pesanan. Tanpa memasukkan gula
dan krim, kalian menghirupnya perlahan-lahan. Nyaris bersamaan. Seketika kalian
tertawa. Seketika sorot matanya menangkapmu. Menyeretmu dalam arus yang misterius.
Ada kegugupan yang tak kaumengerti. Dia
tertawa. Geligi putih dan senyumannya terlihat begitu indah, seperti alunan
simfoni yang menggugah. Kamu terpesona. Terpana. Bola matanya berwarna pualam.
Dalam. Nyaris membuatmu tenggelam.
“Aku
selalu percaya ada kehidupan di masa lalu,” katanya, “dan hey, kita pernah
bertemu.” Kamu sekuat tenaga menutupi rasa heran, ketidakmengertian. “Dari dulu
kamu tak pernah berubah. Kamu suka bepergian sendiri, makan sendiri. Kamu
menyukai kesendirian.” Seumur hidup kamu belum pernah bertemu manusia yang
sungguh meyakini konsep reinkarnasi, Kamu tak tahu bagaimana harus berkomentar
selain mendengarkan.
Tapi,
sesuatu dalam kata-katanya membuat tengkukmu meremang. Dia seperti bisa melihat
hidupmu.
Rasanya
sulit dipercaya, tapi entah bagaimana, dia seperti tahu semuanya. Dia tahu apa
yang kamu suka dan yang tidak. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi
begitu jauh di masa lalu, yang bahkan kamu sendiri telah membiarkannya berlalu.
Dalam
lorong gelap ketidakmengertian, kamu seraya mencuri-curi pandang. Mungkin
karena dia begitu indah. Wajah yang mengingatkanmu tentang eloknya sebuah
anugerah. Kamu tak memedulikan betapa sesungguhnya dia telah membuat hatimu
resah. Dia melirikmu sedikit. Sedikit, tapi cukup untuk membuat hatimu jungkir
balik.
“Kita
dua orang pengelana abadi di negeri asing, tiba-tiba merasa begitu dekat dengan
rumah.” Lagi, dia melontarkan kata yang tak bisa kamu cerna. Gelagapan, kamu
tertegun, hendak bertanya arti semua kata yang kamu dengar, tapi hatimu menolak
mengucapkan apa yang ada dalam benak. Kamu menolak memperlihatkan jejak
ketidaktahuan di hadapan perempuan yang menguarkan harum lembut mahal. Kamu
biasanya cenderung pemalu dan tak mudah berbicara dengan perempuan. Tapi dengan
si Cantik, kamu merasa memiliki semacam dorongan untuk berbincang, tak peduli
tentang apa pun itu. Kamu menolak menghapus kemungkinan untuk bisa mengenal si
Cantik lebih jauh. Kemungkinan yang mengetuk pintu hatimu. Kemungkinan yang
melambungkan anganmu.
Lalu,
di bawah waktu, kamu segera percaya bahwa kerumitan takdir telah membawamu
untuk bisa saling berdekatan dengannya di sebuah kafe di kota tua pada satu
malam yang indah. Sekonyong malam terasa begitu merah. Kamu dan dia tak ingin
berpisah.
Di
bawah waktu, sekat-sekat di antara kalian remuk seketika. Kamu menjadi percaya
bahwa selama ini kalian adalah sepasang jiwa yang terlibat komitmen abadi untuk
saling mencari. Dua jiwa yang terpisah oleh kematian dan janji untuk selalu
bersua lagi. Terlalu banyak kesamaan yang terlampau banyak terlampau kerap jika
disebut sebagai sebuah kebetulan semata. Kamu menatapnya. Dia menatapmu. Tanpa
sepatah kata pun, kalian sepakat, terpisah hanya sebuah cara untuk kembali
saling menemukan. Kamu menggenggam tangannya. Dia menggelayut manja.
Bergandengan, kalian menyusuri waktu yang tersisa.
Pasir
putih begitu lembut di bawah telapak kalian yang telanjang. Beberapa camar
terbang rendah di langit pagi yang cerah. Laut dan langit beradu biru. Dia
menatapmu. Kali ini dengan mata yang membentangkan laut. Biru. Waktu mencair
jadi sesuatu yang tak kaukenali. Tubuhnya bergelimang cahaya yang terpantul
dari titik-titik air. Laut seperti terdengar gaduh dan gemuruh.
Deru
ombak ini kelak akan mengingatkanmu padaku, dia berbisik. Tanpa deru ombak ini,
aku akan selalu mengingatmu, balasmu. Dia hanya tersenyum. Dan berjalan. “Ke
mana?” Dia hanya terdiam. Langit seketika terasa kelam. “Ke mana?” Tanyamu
lagi. Hampamu bergumul dengan ombak yang bergulung. Langkah-langkahnya seperti menjauh.
Kamu menunggu. Pulang, dia menjawab. Jika sudah waktunya, hidup akan mengubah
kanal aliran dengan sendirinya. Suara itu terdengar seperti datang dari dunia
lain. Tidak. Aku tidak boleh kehilangan
dia. Tidak setelah kehadirannya menggulungku tiba-tiba. Begitu saja. Ia memberi
alasan baru bagiku untuk hidup. Persis seperti kehadirannya yang mengusik
kesendirianmu. Hadirnya dimulai di tanah dan berakhir di laut — tepat saat
hatimu telah terpagut.
Kamu
tercekat. Terbata. Tiga hari yang lalu, perempuan terindah itu tanpa ragu
menobatkanmu sebagai jiwanya yang terbelah, yang ia nanti selama seperempat
abad tanpa lelah. Tiga hari, yang awalnya kamu pikir, akan jadi untuk selamanya.
Tepat di hari ketiga, dia mengemas semua yang pernah kalian lalui dengan rapi. Tadi
pagi, setelah satu potong quiche dan secangkir the panas, pelan dia membereskan
barang-barangnya yang terserak, lalu memasukannya satu demi satu ke dalam tas. Memastikan
tak ada satupun barangnya yang tertinggal, Juga hatinya. Juga semua ucapannya. “Kelak
kita akan kembali saling menemukan,” katanya ringan, tanpa beban. Tanpa menoleh
ke arahmu.
Dia
berjalan. Geraknya agak tertahan seperti meredam gesa. Tapi sebelum langkahnya
benar-benar menjauh, perlahan dia memalingkan wajah. Tersenyum, dingin. Lalu
berucap. Ucapan yang terdengar seperti datang dari kejauhan. “Jika kita
sungguh-sungguh ditakdirkan sebagai belahan jiwa masing-masing, maka tanpa
kesulitan pada satu waktu pada satu tempat kita akan kembali saling menemukan.”
Kamu
mengirim isyarat hampa ke arah matanya yang dalam, yang menghanyutkanmu seperti
gemuruh ombak di lautan. Lalu tersenyum getir. Itu terdengar seperti sebuah
lelucon. Tapi, kamu tahu itu bukan sebuah lelucon ketika sesuatu yang hidup
tercerabut dari hati. Rasanya seperti dipukul tepat di ulu hati. Berkali-kali. Sakit
sekali. Waktu hening, seperti akan jadi selamanya. Mungkin harusnya kamu tak
merasa rindu pada sesuatu yang tak kau tahu. Mungkin sebaiknya di malam itu
kamu tetap menjadi dirimu yang seharusnya; lelaki pemalu dan lugu. Mungkin
harusnya di malam itu kamu menaruh hati secara pelahan, jangan sekaligus dalam
waktu yang bersamaan. Yang membuatmu terbang begitu tinggi, sekaligus jatuh
menghujam bumi. Dan kamu nyaris mati. Tapi di malam itu, kamu telah bertemu
dia. Bukan cuma mimpi dan imaji. Bukan pula sebuah hologram. Dia nyata. Senyata
rasa sakit yang kamu rasa. Senyata titik jauh di tengah samudera.
Kamu
selalu duduk di kursi yang sama, meja yang sama, di samping jendela yang sama. Kamu
akan melihat keluar jendela, ke jalan yang selalu sibuk. Di antara orang yang
berlalu lalang, matamu tak pernah luput menangkapnya. Hanya dibutuhkan satu
kedipan mata untuk mengembalikannya kembali ke sini. Dari jendela kafe kamu
melihatnya berjalan menyusuri sudut kota. Dia
terlihat seperti bukan fantasi. Kamu yakin, pasti tidak sedang bermimpi.
Keindahannya begitu pekat tertera di bumi. Rambut panjangnya terlihat tertata
rapi seperti baru keluar dari salon. Tubuh semampainya melangkah anggun dibalut
jins ketat dan tank-top. Kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang selalu
bercahaya.
Angin
dingin tiba-tiba berhembus entah dari mana. Udara lembut menyentuh kulitmu.
Entah mengapa. Mungkin karena dengan membayangkannya memberimu perasaan sejuk.
Wajah yang mengingatkanmu pada hari-hari hujan di kotamu.
Waktu
memang bisa mengacaukan segalanya: kenyataan dan imaji, harapan dan ilusi. Berapa
lama semua sudah berlalu. Sepuluh tahun? Lima belas? Gagasan tentang waktu tak
terpikir olehmu. Belasan tahun yang telah terentang tak berarti apa-apa bagimu.
Dari semua penjuru, semesta pelahan menyurut, menjadi dia di hadapanmu. Masih
menatapmu dengan mata yang begitu indah. Sepanjang hidup kamu mencari seseorang
yang menatap seperti dia menatap. Mata yang sekilap bintang, melambungkanmu ke
titik paling benderang.
Kali
ini kamu tak memesan secangkir kopi. Malam meresap seperti sesap buih terakhir
pada segelas bir. Gelas bir kedua. Lalu ketiga. Lalu entah. Ingatan terlontar
di saat segalanya telah menjadi getir. Segelas bir selalu jadi pelarian yang
terus menerus ketika imaji tentangnya tak pernah selesai. Hari, bulan, tahun,
datang silih berganti, tapi bayangnya seperti tak bisa terganti. Mungkin
dibutuhkan ribuan hari untuk dapat mengucap selamat tinggal pada tiga hari yang
kamu lalui dengannya. Perempuan terindah itu pernah meninggalkan rasa yang
pernah membuatmu begitu ingin melakukan apa saja untuk bisa menghabiskan hidup
bersamanya: cinta. Rasa yang tertinggal abadi. Meski waktu telah menyapunya ke
ketiadaan. Gaung suaranya tertinggal hingga detik ini. Desah bisiknya terserak
di ruang sunyi. “Kamu yang kucari selama ini.”


