Jumat, 16 Mei 2014

Ujung Cerita



Ujung Cerita


Di barat cahaya magis matahari memeluk erat. Memeluk jalan-jalan, papan-papan iklan, kendaraan yang semakin berhimpitan, dinding-dinding kusam, stasiun tua yang temaram, dan tubuh dua orang yang berdiri bersisian dengan hati memuram.
Lalu sepi. Langit memerah. Seketika udara menghembuskan suara-suara. Ribuan derak langkah tergesa. Mereka yang tak pernah berhenti dari upacara kehidupan, seolah hidup adalah sebuah pasung atas kebebasan. Semua bergerak. Awan, senja, kereta, manusia.
Kecuali aku. Dan kamu, yang mematung di sisiku. Kesedihan memaku sekujur pilu di lantai hingga beku.
Cahaya magis itu semakin lama semakin jingga. Sebelum pelahan akan kembali pulang, ke balik cakrawala. Aku menatap mega bersepuh cahaya itu seolah menatap keindahan yang segera hilang. Seperti kebahagiaan. Seperti kisah kita.   
Kini tiada lagi kisah. Kini semua berakhir sudah. Sungguh bukanlah hal yang mudah, untuk menerima kenyataan kamu dan aku akan benar-benar berpisah. Kelak, semua tentang kita hanya akan menjadi sejarah. Kata-kata menguap tak tersisa, seperti bunyi pada ruang hampa. Tak ada tempat untuk menyembunyikan duka selembut air mata, tapi di tengah hiruk pikuk keramaian manusia, membuatku tak mungkin menitikannya. Telah kita arungi senja demi senja yang penuh kerisauan, tapi senja kali ini adalah senja yang paling berlumur kepedihan.
Menemukanmu adalah bahagia yang tak terencana. Dan hari-hari bersamamu adalah bahagia yang tak terkira. Tapi hidup seperti punya jatah waktu yang boleh kita arungi bersama. Sia-sia bertahan. Sia-sia melawan. Kita akan selalu kalah, bisikmu lirih. Tapi kita bisa melawan, tangisku. Kamu hanya bisa menggeleng lemah. Jangan menyerah, lirihku. Aku tak mungkin meninggalkan mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Meninggalkan ribuan hari yang terlalui bersama. Berapa lamakah itu? Delapan tahun? Sembilan? Sembilan tahun enam bulan sebelas hari katamu.
Aku tak mungkin meninggalkan mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Kesedihan seperti ingin mendesak keluar dari tempat kita berbaring. Seperti hasrat yang membabi buta. Saat tangan kita terpaut, sang waktu menyusutkan tubuhnya. Malam banjir akan adrenalin. Malam menjelma serupa pucuk-pucuk cemara hijau yang senantiasa mendesau. Di tiap inci, tiap relung dan lipatan.
Apakah kamu menyayangiku? Tak ada jawaban. Mungkin memang tak perlu. Itu terdengar sama bodohnya dengan sebuah tanya pada manusia: apakah kamu butuh udara? Mungkin memang selama ini kita mengarungi hal yang hampir mustahil. Rengkuhanmu menyisakan sedikit ruang. Jangan pergi, bisikku. Tapi sesudah malam ini, aku bukan lagi milikmu. Begitu juga sebaliknya. Mungkin aku memang sudah kehilanganmu sejak pertama mengenalmu. Kamu tak mungkin meninggalkan mereka. Tapi kamu bisa meninggalkan pangeran kecilku yang kerapkali terbangun sendiri di dini hari, menyebut-nyebut namamu, saat kamu berada ribuan mil dari rumah—di tempatmu seharusnya berada. Sebab mungkin sepanjang hidupnya ia tak pernah mengenal sosok seorang ‘ayah’. Dan anak lelaki delapan tahun itu hanya bisa tergugu saat kamu benar-benar pergi. Naluriku sebagai ibu mengatakan kepedihannya melompat jauh melebihi rasa kehilanganku.
Kita; seperti air dan api. Hidup dalam satu ruang menjadi sebuah kemustahilan. Segala yang mengikat di sekelilingmu terlalu banyak. Setiap malam aku membisik doa. Berharap ada sesuatu yang menuntunmu untuk mendapat kekuatan. Kekuatan untuk mendobrak. Membebaskan dirimu sendiri. Tapi mungkin rindu terlarang tak punya penawar seperti ‘cinta terlarang’ yang mungkin tak akan direstui penghuni surga.
Ketakutan selalu mengikat kita pada hal yang paling kita takuti. Ia terus menghantui kemana pun kita pergi, menjelma jadi mimpi buruk yang enggan berakhir. Seperti anjing penjaga yang teramat setia, ia menunggu di batas tipis yang memisahkan tidur dan terjagamu. Rasa takut kehilangan itu terasa seketika nyata, seperti seseorang yang dulu datang memeluk rasa sendiriku. Dunia tiba-tiba menjelma serupa mimpi buruk, menyergap dalam sebuah kenyataan yang tak bisa kupercaya.
Aku memejamkan mata yang pedih. Kamu memelukku tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak akan pergi, bisikku di dadamu. Kamu memelukku kencang. Kita telah sampai di ujung cerita. Dari debar di jantungku, aku berharap kamu merasakan selama ini aku hidup dengan mencintaimu. Namun waktu, lokomotif besar yang mengisap dan menarik segalanya itu, seakan berjalan lebih cepat, menjauhkan tubuhmu dari jangkauanku. Rasa hampa meresap tiba-tiba seiring tubuhmu yang semakin lenyap diseret kereta. Haruskah aku lari dari kenyataan pahit ini?
Langit berubah sepia. Wajah-wajah memudar. Suara-suara menyepi. Bentang semua harapan bergerak menjauh, terserak ke segala titik yang terlihat mengabur. Aku kehilangan semua bayangan. Lalu tak ada lagi dirimu. Hingga di ujung cerita, aku tak mampu ucapkan selamat tinggal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar