Ujung Cerita
Di
barat cahaya magis matahari memeluk erat. Memeluk jalan-jalan, papan-papan
iklan, kendaraan yang semakin berhimpitan, dinding-dinding kusam, stasiun tua
yang temaram, dan tubuh dua orang yang berdiri bersisian dengan hati memuram.
Lalu
sepi. Langit memerah. Seketika udara menghembuskan suara-suara. Ribuan derak
langkah tergesa. Mereka yang tak pernah berhenti dari upacara kehidupan, seolah
hidup adalah sebuah pasung atas kebebasan. Semua bergerak. Awan, senja, kereta,
manusia.
Kecuali
aku. Dan kamu, yang mematung di sisiku. Kesedihan memaku sekujur pilu di lantai
hingga beku.
Cahaya
magis itu semakin lama semakin jingga. Sebelum pelahan akan kembali pulang, ke
balik cakrawala. Aku menatap mega bersepuh cahaya itu seolah menatap keindahan
yang segera hilang. Seperti kebahagiaan. Seperti kisah kita.
Kini
tiada lagi kisah. Kini semua berakhir sudah. Sungguh bukanlah hal yang mudah,
untuk menerima kenyataan kamu dan aku akan benar-benar berpisah. Kelak, semua
tentang kita hanya akan menjadi sejarah. Kata-kata menguap tak tersisa, seperti
bunyi pada ruang hampa. Tak ada tempat untuk menyembunyikan duka selembut air
mata, tapi di tengah hiruk pikuk keramaian manusia, membuatku tak mungkin
menitikannya. Telah kita arungi senja demi senja yang penuh kerisauan, tapi
senja kali ini adalah senja yang paling berlumur kepedihan.
Menemukanmu
adalah bahagia yang tak terencana. Dan hari-hari bersamamu adalah bahagia yang
tak terkira. Tapi hidup seperti punya jatah waktu yang boleh kita arungi bersama.
Sia-sia bertahan. Sia-sia melawan. Kita akan selalu kalah, bisikmu lirih. Tapi
kita bisa melawan, tangisku. Kamu hanya bisa menggeleng lemah. Jangan menyerah,
lirihku. Aku tak mungkin meninggalkan
mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Meninggalkan ribuan hari yang
terlalui bersama. Berapa lamakah itu? Delapan tahun? Sembilan? Sembilan tahun
enam bulan sebelas hari katamu.
Aku tak mungkin meninggalkan mereka. Dan kamu hanya bisa meninggalkanku. Kesedihan
seperti ingin mendesak keluar dari tempat kita berbaring. Seperti hasrat yang
membabi buta. Saat tangan kita terpaut, sang waktu menyusutkan tubuhnya. Malam banjir
akan adrenalin. Malam menjelma serupa pucuk-pucuk cemara hijau yang senantiasa
mendesau. Di tiap inci, tiap relung dan lipatan.
Apakah
kamu menyayangiku? Tak ada jawaban. Mungkin memang tak perlu. Itu terdengar
sama bodohnya dengan sebuah tanya pada manusia: apakah kamu butuh udara? Mungkin
memang selama ini kita mengarungi hal yang hampir mustahil. Rengkuhanmu
menyisakan sedikit ruang. Jangan pergi, bisikku. Tapi sesudah malam ini, aku
bukan lagi milikmu. Begitu juga sebaliknya. Mungkin aku memang sudah kehilanganmu
sejak pertama mengenalmu. Kamu tak
mungkin meninggalkan mereka. Tapi kamu bisa meninggalkan pangeran kecilku
yang kerapkali terbangun sendiri di dini hari, menyebut-nyebut namamu, saat
kamu berada ribuan mil dari rumah—di tempatmu seharusnya berada. Sebab mungkin
sepanjang hidupnya ia tak pernah mengenal sosok seorang ‘ayah’. Dan anak lelaki
delapan tahun itu hanya bisa tergugu saat kamu benar-benar pergi. Naluriku
sebagai ibu mengatakan kepedihannya melompat jauh melebihi rasa kehilanganku.
Kita;
seperti air dan api. Hidup dalam satu ruang menjadi sebuah kemustahilan. Segala
yang mengikat di sekelilingmu terlalu banyak. Setiap malam aku membisik doa.
Berharap ada sesuatu yang menuntunmu untuk mendapat kekuatan. Kekuatan untuk
mendobrak. Membebaskan dirimu sendiri. Tapi mungkin rindu terlarang tak punya
penawar seperti ‘cinta terlarang’ yang mungkin tak akan direstui penghuni
surga.
Ketakutan
selalu mengikat kita pada hal yang paling kita takuti. Ia terus menghantui
kemana pun kita pergi, menjelma jadi mimpi buruk yang enggan berakhir. Seperti
anjing penjaga yang teramat setia, ia menunggu di batas tipis yang memisahkan
tidur dan terjagamu. Rasa takut kehilangan itu terasa seketika nyata, seperti
seseorang yang dulu datang memeluk rasa sendiriku. Dunia tiba-tiba menjelma
serupa mimpi buruk, menyergap dalam sebuah kenyataan yang tak bisa kupercaya.
Aku
memejamkan mata yang pedih. Kamu memelukku tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak
akan pergi, bisikku di dadamu. Kamu memelukku kencang. Kita telah sampai di ujung cerita. Dari debar di jantungku, aku
berharap kamu merasakan selama ini aku hidup dengan mencintaimu. Namun waktu,
lokomotif besar yang mengisap dan menarik segalanya itu, seakan berjalan lebih
cepat, menjauhkan tubuhmu dari jangkauanku. Rasa hampa meresap tiba-tiba
seiring tubuhmu yang semakin lenyap diseret kereta. Haruskah aku lari dari
kenyataan pahit ini?
Langit
berubah sepia. Wajah-wajah memudar. Suara-suara menyepi. Bentang semua harapan
bergerak menjauh, terserak ke segala titik yang terlihat mengabur. Aku
kehilangan semua bayangan. Lalu tak ada lagi dirimu. Hingga di ujung cerita,
aku tak mampu ucapkan selamat tinggal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar