Aku tak tahu apa yang harus
kukatakan. Mendadak mulut ini tak bisa berbicara. Aku tak tahu harus memulai
dari mana. Sebagaimana, aku tak tahu apa harus kuungkapkan ini semua. Sepenggal
dariku berharap ini tak perlu kamu ketahui. Separuhnya lagi berkata aku tak
mungkin menafikan sesuatu yang telah mengisi mimpi-mimpiku sekian lama.
Rangkaian kata yang kupilih sejak beberapa jam yang lalu, kemarin, kemarinnya
lagi, seminggu, atau sebulan yang lalu, hanya memenuhi isi kepalaku.
Mengapa kata-kata justru hilang
pada momen seperti ini. Aku mendadak bisu. Rahang ini terkatup. Kemampuanku
berkata-kata lenyap. Sekujur tubuhku mendadak terasa begitu dingin. Pandangan
mataku kosong.
“Kamu sakit?” Kudengar kamu
bertanya dengan nada cemas. Sekuat tenaga ingin kumenjawab, tapi aku hanya bisa
menggelengkan kepala.
Lalu kemudian kamu kembali
bercerita. Maaf, aku tidak menaruh atensi atas apa yang kamu ceritakan. Bagiku
ada hal lain yang saat ini lebih penting untuk kupikirkan. Tapi seperti
biasanya, kamu seperti telah mengerti, atau memahami, atas sikapku yang hanya
menatapmu kosong untuk menanggapi segala ceritamu.
“Kamu tahu kenapa aku memilih
restoran ini?”
Sampai pada bagian itu. Pertanyaan
itu menghenyakkan lamunanku. Aku tahu
kamu akan bertanya akan hal ini. Aku tahu kamu pasti akan memilih restoran ini.
Ini adalah tempat kali pertama kita bertemu. Aku yang saat itu genap empat
tahun menyendiri, kalah taruhan tebak skor sepakbola dari sahabatku, Tito.
Sebagai imbalannya, aku harus bersedia untuk berkenalan dengan seorang
perempuan. Perempuan yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Itu terlihat seperti bukan sebuah hukuman atas
sebuah kekalahan, tapi tidak untukku. Saat itu hanya ada seseorang yang ada di
kepalaku. Dia adalah tujuanku.
Dihinggapi keengganan yang begitu
dalam, aku menyetujui ide kencan buta Tito. Kencan itu menghantarkanku pada
seorang perempuan cantik bernama Dara, yang ternyata tak lain adalah teman di
masa kecilnya. Dara tidak hanya cantik. Ia adalah paket komplit yang akan
dicari setiap lelaki dari seorang perempuan: pintar, berwawasan luas, dan
seperti layaknya manusia yang hidup di kota besar, Dara dijangkiti semacam
keresahan yang khas, yang membuatnya tidak bisa berbicara perlahan, dan saat
duduk pun kakinya tak henti-hentinya
bergoyang. Mungkin karena perngaruh kafein, pikirku, kala itu.
Didasari karena ingin menghargai
niat baik sahabatku, aku berpikir tidak ada salahnya untuk melanjutkan
perkenalanku dengan Dara. Keceriaan Dara adalah teman yang sempurna untuk
temani hari-hariku yang tak berwarna. Kadang perbedaan sifat, dan segala macam
ketidakcocokan justru menjadi perekat dari sebuah pertemanan. Atau hubungan.
Tidak ada yang salah dari
kedekatanku dengan Dara. Sampai kemudian datang satu momen tak terduga. Saat
itu syukuran ulang tahun Bundanya Dara. Ketika diminta mengucapkan harapannya,
sang Bunda mengucap ia berharap putri
tunggalnya, Dara, segera mendapat pasangan hidup. Tidak ada yang salah dengan
harapan itu. Tetapi kadang sebuah kesembronoan bisa berakibat fatal. Didasari
keisingan bak remaja tanggung, Tito mengucap dengan lantang tepat setelah sang
Bunda mengucap doa, “Wah, selamat yah loe berdua udah dapet restu.” Aku yang
saat itu, kebetulan berada di sebelah Dara, sontak menjadi perhatian. Keisengan
Tito seakan menjadi pemicu untuk
meresmikan kedekatan aku dan Dara.
“Aku tahu,” ucapku pelan. Susah
payah aku bicara. Kamu menarik sebelah tanganku. Menggenggamnya. “Kamu kenapa
sih, kayaknya ngga seneng. Ini anniversary kita tauk,” kamu sedikit merengut. Matamu sedikit menyipit. Menunggu
penjelasan.
Sebenarnya ini adalah momen terbaik
untukku. Memberi kamu penjelasan. Tentang apa yang sebenarnya aku rasakan.
Sebelah dariku menginginkan masa lalu itu kembali datang, terus
mengangankannya, terus menjadikannya
sebagai sebuah harapan. Impian yang mungkin akan selamanya menjadi sekedar
impian, dan aku akan bertahan selama apapun itu, tanpa pernah mengerti kekuatan
macam apa yang sanggup menahanku untuk bertahan. Sebelah lagi bersikeras menjadikan kenangan
itu untuk pergi dan segera berlalu. Memanduku untuk berpikir bahwa segala
pengharapan yang aku punya hanya akan menahanku untuk hidup dalam
bayang-bayang. Memanduku untuk memahami
betapa besarnya perbedaan antara menunggu cinta sejati atau kebutaan sejati. Dalam
perjalanan waktu kedekatanku dengan kamu, pilihan logis yang aku jalani, untuk
kembali belajar mencintai, memahami bahwa menemukan kembali jiwa yang akan
membawa kita mendapati rumah yang selama ini kita cari adalah sesuatu yang
paling berharga. Dan untuk semua pergulatan batin itu apakah kamu harus
mengetahuinya? Apakah aku harus mengatakan kejujuran yang kini kusimpan sendiri, bahwa awalnya aku hanya
berharap kamu menjadi pengalih perhatian dari kesepian yang aku rasa selama
ini. Aku tahu itu salah. Aku tidak ingin menjalani kisah ini hanya karena
enggan menjalani hari-hari yang sepi. Kamu tidak layak untuk itu. Untuk jadi
sekedar pengalih perhatian. Seseorang semestinya memutuskan bersedia berbagi
kisah dengan orang lain bukan untuk mengatasi ketakutannya akan sepi. Tapi waktu
kemudian menuntunku pada satu momen yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Bersamamu aku menemukan kembali keutuhan jiwa. Aku merasa kita berada di jalan
setapak yang searah, meski pikiran kita terpisah. Tanpamu aku kehilangan semua
makna, perjalanan dan tujuan. Kamu bukan hanya sekedar pengalih perhatian.
Meski kita mungkin dipersatukan oleh keisengan, kamu adalah orang yang tepat
untuk menutup masa lalu hanya sebatas kenangan.
Kejujuran ini akan kusimpan
sendiri.
Aku menggenggam erat jemarimu.
Menyerukan ikrar kebebasanku. “Aku menyayangimu.”
Saat itu Dara ada di hadapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar