Minggu, 12 Mei 2013

Dara




Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Mendadak mulut ini tak bisa berbicara. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Sebagaimana, aku tak tahu apa harus kuungkapkan ini semua. Sepenggal dariku berharap ini tak perlu kamu ketahui. Separuhnya lagi berkata aku tak mungkin menafikan sesuatu yang telah mengisi mimpi-mimpiku sekian lama. Rangkaian kata yang kupilih sejak beberapa jam yang lalu, kemarin, kemarinnya lagi, seminggu, atau sebulan yang lalu, hanya memenuhi isi kepalaku.
Mengapa kata-kata justru hilang pada momen seperti ini. Aku mendadak bisu. Rahang ini terkatup. Kemampuanku berkata-kata lenyap. Sekujur tubuhku mendadak terasa begitu dingin. Pandangan mataku kosong.
“Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Sekuat tenaga ingin kumenjawab, tapi aku hanya bisa menggelengkan kepala.  
Lalu kemudian kamu kembali bercerita. Maaf, aku tidak menaruh atensi atas apa yang kamu ceritakan. Bagiku ada hal lain yang saat ini lebih penting untuk kupikirkan. Tapi seperti biasanya, kamu seperti telah mengerti, atau memahami, atas sikapku yang hanya menatapmu kosong untuk menanggapi segala ceritamu.
“Kamu tahu kenapa aku memilih restoran ini?”

Sampai pada bagian itu. Pertanyaan itu menghenyakkan lamunanku.  Aku tahu kamu akan bertanya akan hal ini. Aku tahu kamu pasti akan memilih restoran ini. Ini adalah tempat kali pertama kita bertemu. Aku yang saat itu genap empat tahun menyendiri, kalah taruhan tebak skor sepakbola dari sahabatku, Tito. Sebagai imbalannya, aku harus bersedia untuk berkenalan dengan seorang perempuan. Perempuan yang tak pernah aku kenal sebelumnya.  Itu terlihat seperti bukan sebuah hukuman atas sebuah kekalahan, tapi tidak untukku. Saat itu hanya ada seseorang yang ada di kepalaku. Dia adalah tujuanku.
Dihinggapi keengganan yang begitu dalam, aku menyetujui ide kencan buta Tito. Kencan itu menghantarkanku pada seorang perempuan cantik bernama Dara, yang ternyata tak lain adalah teman di masa kecilnya. Dara tidak hanya cantik. Ia adalah paket komplit yang akan dicari setiap lelaki dari seorang perempuan: pintar, berwawasan luas, dan seperti layaknya manusia yang hidup di kota besar, Dara dijangkiti semacam keresahan yang khas, yang membuatnya tidak bisa berbicara perlahan, dan saat duduk pun  kakinya tak henti-hentinya bergoyang. Mungkin karena perngaruh kafein, pikirku, kala itu.
Didasari karena ingin menghargai niat baik sahabatku, aku berpikir tidak ada salahnya untuk melanjutkan perkenalanku dengan Dara. Keceriaan Dara adalah teman yang sempurna untuk temani hari-hariku yang tak berwarna. Kadang perbedaan sifat, dan segala macam ketidakcocokan justru menjadi perekat dari sebuah pertemanan. Atau hubungan.
Tidak ada yang salah dari kedekatanku dengan Dara. Sampai kemudian datang satu momen tak terduga. Saat itu syukuran ulang tahun Bundanya Dara. Ketika diminta mengucapkan harapannya, sang Bunda  mengucap ia berharap putri tunggalnya, Dara, segera mendapat pasangan hidup. Tidak ada yang salah dengan harapan itu. Tetapi kadang sebuah kesembronoan bisa berakibat fatal. Didasari keisingan bak remaja tanggung, Tito mengucap dengan lantang tepat setelah sang Bunda mengucap doa, “Wah, selamat yah loe berdua udah dapet restu.” Aku yang saat itu, kebetulan berada di sebelah Dara, sontak menjadi perhatian. Keisengan Tito seakan menjadi pemicu  untuk meresmikan kedekatan aku dan Dara.
“Aku tahu,” ucapku pelan. Susah payah aku bicara. Kamu menarik sebelah tanganku. Menggenggamnya. “Kamu kenapa sih, kayaknya ngga seneng. Ini anniversary kita tauk,” kamu sedikit merengut. Matamu sedikit menyipit. Menunggu penjelasan.
Sebenarnya ini adalah momen terbaik untukku. Memberi kamu penjelasan. Tentang apa yang sebenarnya aku rasakan. Sebelah dariku menginginkan masa lalu itu kembali datang, terus mengangankannya,  terus menjadikannya sebagai sebuah harapan. Impian yang mungkin akan selamanya menjadi sekedar impian, dan aku akan bertahan selama apapun itu, tanpa pernah mengerti kekuatan macam apa yang sanggup menahanku untuk bertahan.  Sebelah lagi bersikeras menjadikan kenangan itu untuk pergi dan segera berlalu. Memanduku untuk berpikir bahwa segala pengharapan yang aku punya hanya akan menahanku untuk hidup dalam bayang-bayang.  Memanduku untuk memahami betapa besarnya perbedaan antara menunggu cinta sejati atau kebutaan sejati. Dalam perjalanan waktu kedekatanku dengan kamu, pilihan logis yang aku jalani, untuk kembali belajar mencintai, memahami bahwa menemukan kembali jiwa yang akan membawa kita mendapati rumah yang selama ini kita cari adalah sesuatu yang paling berharga. Dan untuk semua pergulatan batin itu apakah kamu harus mengetahuinya? Apakah aku harus mengatakan kejujuran yang kini  kusimpan sendiri, bahwa awalnya aku hanya berharap kamu menjadi pengalih perhatian dari kesepian yang aku rasa selama ini. Aku tahu itu salah. Aku tidak ingin menjalani kisah ini hanya karena enggan menjalani hari-hari yang sepi. Kamu tidak layak untuk itu. Untuk jadi sekedar pengalih perhatian. Seseorang semestinya memutuskan bersedia berbagi kisah dengan orang lain bukan untuk mengatasi ketakutannya akan sepi. Tapi waktu kemudian menuntunku pada satu momen yang tak pernah kuduga sebelumnya. Bersamamu aku menemukan kembali keutuhan jiwa. Aku merasa kita berada di jalan setapak yang searah, meski pikiran kita terpisah. Tanpamu aku kehilangan semua makna, perjalanan dan tujuan. Kamu bukan hanya sekedar pengalih perhatian. Meski kita mungkin dipersatukan oleh keisengan, kamu adalah orang yang tepat untuk menutup masa lalu hanya sebatas kenangan.
Kejujuran ini akan kusimpan sendiri.
Aku menggenggam erat jemarimu. Menyerukan ikrar kebebasanku. “Aku menyayangimu.”
Saat itu Dara ada di hadapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar