Minggu, 12 Mei 2013

Dara




Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Mendadak mulut ini tak bisa berbicara. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Sebagaimana, aku tak tahu apa harus kuungkapkan ini semua. Sepenggal dariku berharap ini tak perlu kamu ketahui. Separuhnya lagi berkata aku tak mungkin menafikan sesuatu yang telah mengisi mimpi-mimpiku sekian lama. Rangkaian kata yang kupilih sejak beberapa jam yang lalu, kemarin, kemarinnya lagi, seminggu, atau sebulan yang lalu, hanya memenuhi isi kepalaku.
Mengapa kata-kata justru hilang pada momen seperti ini. Aku mendadak bisu. Rahang ini terkatup. Kemampuanku berkata-kata lenyap. Sekujur tubuhku mendadak terasa begitu dingin. Pandangan mataku kosong.
“Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Sekuat tenaga ingin kumenjawab, tapi aku hanya bisa menggelengkan kepala.  
Lalu kemudian kamu kembali bercerita. Maaf, aku tidak menaruh atensi atas apa yang kamu ceritakan. Bagiku ada hal lain yang saat ini lebih penting untuk kupikirkan. Tapi seperti biasanya, kamu seperti telah mengerti, atau memahami, atas sikapku yang hanya menatapmu kosong untuk menanggapi segala ceritamu.
“Kamu tahu kenapa aku memilih restoran ini?”