Aku tak tahu apa yang harus
kukatakan. Mendadak mulut ini tak bisa berbicara. Aku tak tahu harus memulai
dari mana. Sebagaimana, aku tak tahu apa harus kuungkapkan ini semua. Sepenggal
dariku berharap ini tak perlu kamu ketahui. Separuhnya lagi berkata aku tak
mungkin menafikan sesuatu yang telah mengisi mimpi-mimpiku sekian lama.
Rangkaian kata yang kupilih sejak beberapa jam yang lalu, kemarin, kemarinnya
lagi, seminggu, atau sebulan yang lalu, hanya memenuhi isi kepalaku.
Mengapa kata-kata justru hilang
pada momen seperti ini. Aku mendadak bisu. Rahang ini terkatup. Kemampuanku
berkata-kata lenyap. Sekujur tubuhku mendadak terasa begitu dingin. Pandangan
mataku kosong.
“Kamu sakit?” Kudengar kamu
bertanya dengan nada cemas. Sekuat tenaga ingin kumenjawab, tapi aku hanya bisa
menggelengkan kepala.
Lalu kemudian kamu kembali
bercerita. Maaf, aku tidak menaruh atensi atas apa yang kamu ceritakan. Bagiku
ada hal lain yang saat ini lebih penting untuk kupikirkan. Tapi seperti
biasanya, kamu seperti telah mengerti, atau memahami, atas sikapku yang hanya
menatapmu kosong untuk menanggapi segala ceritamu.
“Kamu tahu kenapa aku memilih
restoran ini?”